Feeds:
Pos
Komentar

image

Untuk Rekan BC yang ingin mengetahui arti kata CILEGON, berikut adalah artinya: CILEGON berasal dari kata “CI” atau “Cai” dalam bahasa sunda berarti AIR dan kata “LEGON” atau “MELEGON” yang berarti LENGKUNGAN (H.M.A. Tihami). CILEGON bisa diartikan sebagai kubangan air atau rawa-rawa.

Hal ini sesuai dengan banyaknya nama tempat di Cilegon yang menggunakan nama KUBANG. Seperti: Kubang Sepat, Kubang Lele, Kubang Welut, Kubang Welingi, Kubang Lampit, Kubang Lampung, Kubang Menyawak, Kubang Bale, Kubang Lesung, Kubang Lumbra, Kubang Kutu, Kubang Saron, Kubang Wates, Kubang Sari, dan yang lainnya.

Sepintas penyebutan kata LEGON mirip dengan kata “LAGUNA” atau “LAGOON” dalam bahasa Inggris yang berarti danau kecil atau tasik yg dikelilingi oleh karang atau pasir yg menutup pesisir atau muara sungai.

Cilegon pada abad-16 merupakan sebuah kampung kecil yang dikelilingi rawa-rawa atau kubang-kubang yang berubah dan berkembang menjadi area persawahan dan pemukiman. Tahun 1651 kampung kecil ini termasuk di bawah kekuasaan kerajaan Kesultanan Banten pada masa Sultan Ageng. Tahun 1816 dibentuklah Districh (kecamatan) Cilegon sehingga Cilegon berubah menjadi Kewedanan Cilegon yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Serang. Hingga akhirnya pada tahun 1999 Cilegon berubah menjadi kotamadya, berdiri sendiri lepas dari Kabupaten Serang. Kini Cilegon berkembang menjadi kota industri, perdagangan dan jasa.

*dari berbagai sumber.

Baca juga:

Alkisah, pada jaman dahulu ada seorang pemuda yang bernama Mansyur. Ia menjadi santri yang mondok di pesantren untuk belajar ilmu agama.

Pada suatu malam, setelah Mansyur lulus belajar di pesantren, ia berkemas membungkus barang-barangnya dengan kain. Ia berniat kembali pulang ke kampungnya.

Di tengah perjalanan pulang di malam hari itu, tiba-tiba ia dihadang seorang garong/rampok bersenjata golok besar (bedog).

Garong itu menghunus senjatanya. Ia mengancam dan memaksa Mansyur untuk menyerahkan bungkusan barang bawaannya.
Lanjut Baca »

Karet Gelang Penghapus

image

Apakah sewaktu sekolah dulu Anda pernah menggunakan karet gelang sebagai penghapus? Selamat! Berarti anda seorang murid yang kreatif. Ya, kreatif kepepet di saat ga ada penghapus asli.

Tentu kita punya kenangan menggunakan penghapus dari karetgelang ini,ketika masih sekolah dasar (SD) dulu.

Cara membuatnya pun cukup mudah. Yaitu dengan cara mengikatkan atau melilitkan karet gelang di ujung pensil/petelot. Jadilah penghapus karet.

Penghapus jenis ini digunakan pada saat darurat karena kita tidak membawa penghapus asli. Sebagian murid menggunakannya, meskipun hasilnya tidak seperti penghapus asli. Lanjut Baca »

Asal Usul “Wong Cilegon”

Sejarawan Indonesia, Sartono Kartodirdjo dalam bukunya “Pemberontakan Petani Banten 1888”, menyebutkan sebelum abad 16, daerah Cilegon merupakan tanah rawa yang belum banyak dirambah dan dihuni orang. Arti kata “Cilegon” sendiri berasal dari kondisi alam Cilegon tersebut yang banyak rawa-rawa.

Kemudian pada masa kerajaan Banten di bawah Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1672) dilakukan pembukaan lahan pertanian di daerah Serang dan Cilegon, dengan merubah rawa menjadi persawahan. Sejak itu banyak pendatang yang menetap di perkampungan kecil Cilegon.

Penduduk Cilegon, menurut Sartono, merupakan keturunan orang-orang Jawa yang datang dari Demak dan Cirebon. Sesuai berjalannya waktu, mereka ini kemudian berbaur dengan orang-orang Sunda, Bugis, Melayu, dan Lampung. Mereka adalah kelompok-kelompok perantau yang cerdas, lebih sadar diri dalam hal agama, fanatik, agresif, dan bersemangat memberontak.

Berbeda dengan daerah lainnya di Banten, saat itu di Cilegon hampir tidak terdapat ciri-ciri peradaban Hindu-Jawa seperti gelar keturunan atau kebangsawanan yang mencirikan kasta-kasta sosial. Selain itu penetrasi Islam sangat mendalam. (BERITA CILEGON/Jurnal Addin)

Judul di atas diambil salah satu arsip lama berusia 37 tahun tentang sejarah pembangunan industri baja Krakatau Steel di Cilegon. Arsip lama itu pernah dimuat di Majalah Tempo pada tahun 1975 dan merupakan laporan hasil reportase wartawan Mansur. Dalam reportasenya, Mansur menyebutkan adanya sebuah bangunan kantor yang anggun dengan papan nama “Township Authority”, yang disebut Mansur sebagai Kantor Walikota Krakatau Steel. Kantor ini terdapat di kawasan kompleks perumahan Krakatau Steel dengan luas 2.300 Ha dan berpenghuni sekitar 2.000 orang. Lanjut Baca »

Reruntuhan dinding batu bata mentah yang sudah lapuk setinggi 5 meter bekas Madrasah Ibtidaiyah Al-Khaeriyah yang dibangun tahun 1959. Perguruan Islam Al-Khaeriyah sendiri merupakan perguruan Islam di Kota Cilegon yang didirikan pada 5 Mei 1925.

Bekas bangunan sekolah ini terletak di depan Masjid Al-Khadra salahsatu masjid tertua di Kota Cilegon. Terletak di sebelah utara jalan raya Cilegon-Anyer. Tepatnya di Jalan Kyai Abdul Haq, Kp. Gesing, Kalentemu, Kelurahan Samangraya.

Baca juga:

Ahad atau Minggu

Ahad pagi yang sejuk. Semoga membawa keberkahan untuk kita semua. Aamiin.

Tahukah Anda?
Lanjut Baca »

image

Mungkin tak banyak warga Kota Cilegon yang mengetahui keberadaan pemukiman ini. Ada yang menyebutnya: Kampung Kapang. Dihuni oleh warga yang berasal dari Gerem, Merak, Citangkil, Warnasari, Kubangsari, Anyer, Indramayu, Cirebon.

Di sini warga mendirikan gubuk untuk tempat tinggal dari papan bekas beratap ‘welit’ atau asbes bekas proyek. Terdapat juga dua mushola sederhana yang dibangun dari bahan-bahan bekas bangunan atau bekas proyek. Masing-masing berjarak kurang dari 800 meter. Sebagai media penerangan di malam hari, warga hanya mengandalkan lampu petromak atau lampu teplok saja.

Lokasi perkampungan ini dapat dicapai dengan berjalan kaki atau mengendarai kendaraan bermotor dari SPIJ kawasan industri KS atau dari Link. Kruwuk, Tegal Wangi, Rawa Arum.

Warga menggarap lahan ‘nganggur’ milik perusahaan di sekitar untuk ditanami padi atau palawija. Selain juga mereka  beternak kambing atau kerbau yang kebanyakan milik orang lain.

Dengan kondisi pemukiman demikian seolah warga daerah ini tak tersentuh pembangunan. “Jangan tanya soal pembangunan di sini. Orang partai atau tim sukses hanya datang kemari pas ada pemilu atau pilkada saja. Sesudahnya mereka tak datang kembali,” kata seorang warga Kapang.

Baca juga:

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: